Lichen Institute Dorong Penguatan Resiliensi Terumbu Karang di Selat Alas Berbasis Data dan Komunitas

Lombok Timur, 3 September 2026 — Lichen Institute mendorong penguatan pengelolaan dan pengawasan ekosistem terumbu karang di Selat Alas melalui pendekatan berbasis data, teknologi monitoring, serta keterlibatan masyarakat.

Penguatan Resiliensi Terumbu Karang di Selat Alas

Upaya tersebut menjadi bagian dari program “Penguatan Resiliensi Terumbu Karang di Selat Alas: Integrasi Teknologi Monitoring, Penguatan Konektifitas Terumbu Karang, dan Pengawasan Berbasis Komunitas.”

Program ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman mengenai kondisi dan tingkat resiliensi terumbu karang sekaligus mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang lebih terarah dan berbasis bukti.Upaya tersebut menjadi bagian dari program “Penguatan Resiliensi Terumbu Karang di Selat Alas: Integrasi Teknologi Monitoring, Penguatan Konektifitas Terumbu Karang, dan Pengawasan Berbasis Komunitas.”

Program ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman mengenai kondisi dan tingkat resiliensi terumbu karang sekaligus mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang lebih terarah dan berbasis bukti.

Workshop Status Resiliensi Terumbu Karang

Sebagai bagian dari pelaksanaan program tersebut, Lichen Institute melaksanakan Workshop Status Resiliensi Terumbu Karang TWP Gili Sulat–Lawang pada Kamis, 3 September 2026, bertempat di Kantor Desa Dadap, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.

Workshop menjadi ruang untuk menyampaikan hasil kajian mengenai kondisi dan tingkat resiliensi terumbu karang sekaligus mendiskusikan strategi pengelolaan dan pengawasan kawasan berdasarkan kondisi ekosistem di lapangan.

Workshop Status Resiliensi Terumbu Karang TWP Gili Sulat–Lawang, Desa Dadap, Lombok Timur, 3 September 2026.

Membahas Kondisi dan Resiliensi Terumbu Karang

Dalam workshop tersebut, Lichen Institute menyampaikan materi mengenai kondisi dan tingkat resiliensi terumbu karang TWP Gili Sulat–Lawang. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar untuk melihat kondisi ekosistem serta menentukan kebutuhan pengelolaan dan pengawasan yang lebih tepat.

Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai pengelolaan, zonasi, dan manfaat kawasan konservasi TWP Gili Sulat–Lawang bagi masyarakat yang disampaikan oleh PKP3K DKP NTB.

Mendorong Pengawasan Berbasis Komunitas

Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah pembahasan mengenai pengawasan terumbu karang berbasis kondisi dan tingkat resiliensi. Peserta berdiskusi untuk mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk lokasi, rute, frekuensi pengawasan, serta peran masing-masing pihak.

Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong pengawasan yang lebih terarah dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem terumbu karang.Kolaborasi untuk Pengelolaan Kawasan

Kolaborasi untuk Pengelolaan Kawasan

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok masyarakat pengawas, nelayan, penyuluh, hingga organisasi yang bergerak di bidang konservasi.

Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun pengelolaan kawasan yang kolaboratif serta memastikan informasi dan hasil kajian dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan selanjutnya.

Menuju Pengelolaan Terumbu Karang yang Lebih Berkelanjutan

Melalui integrasi data, teknologi monitoring, penguatan konektivitas terumbu karang, serta pengawasan berbasis komunitas, Lichen Institute terus mendorong upaya pengelolaan ekosistem pesisir dan laut yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Workshop ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kolaborasi dan memastikan pengelolaan terumbu karang dapat dilakukan berdasarkan kondisi ekosistem serta melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam upaya konservasi.

LICHEN INSTITUTE

Bersama masyarakat, menjaga lingkungan, membangun masa depan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *