
Mataram, 19 Mei 2026 — Lichen Institute melakukan audiensi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka memaparkan rencana pelaksanaan Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) 2026. Audiensi yang berlangsung di Kantor DKP Provinsi NTB, Mataram, tersebut membahas rencana program “Penguatan Resiliensi Terumbu Karang di Selat Alas: Integrasi Teknologi Monitoring, Penguatan Konektivitas Terumbu Karang, dan Pengawasan Berbasis Komunitas.”

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun koordinasi antara Lichen Institute dengan DKP NTB, khususnya dalam mendukung pengelolaan dan konservasi ekosistem pesisir dan laut di kawasan Selat Alas. Program tersebut diarahkan pada penguatan basis data sosial, ekonomi, dan ekologi, penerapan tata kelola berbasis resiliensi, pemanfaatan teknologi monitoring, penguatan konektivitas terumbu karang, serta pengawasan berbasis masyarakat.

Audiensi Bahas Rencana Program TFCCA
Audiensi dilaksanakan pada Selasa, 19 Mei 2026, mulai pukul 09.00 WITA hingga agenda selesai. Pertemuan berlangsung secara tatap muka dengan pendekatan partisipatif melalui pemaparan program, diskusi, tanya jawab, serta penyusunan rencana koordinasi dan tindak lanjut.
Dalam pertemuan tersebut, Lichen Institute menyampaikan rencana kegiatan selama periode program, termasuk rencana pengembangan Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECM) Gili Sunut–Petelu, survei ekologi berbasis resiliensi, survei sosial ekonomi, pemantauan menggunakan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV), serta penguatan pengawasan berbasis komunitas.

Kawasan Gili Sunut–Petelu menjadi salah satu lokasi penting dalam program karena berada di kawasan Selat Alas dan memiliki keterkaitan dengan pengelolaan ekosistem pesisir serta potensi pengembangan OECM. Program juga mencakup kawasan TWP Gili Sulat–Lawang sebagai bagian dari kegiatan survei ekologi.
Peserta dan Unsur yang Hadir
Audiensi diikuti oleh unsur Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB dan Lichen Institute. Dari pihak DKP NTB, unsur yang dilibatkan meliputi Kepala Dinas, UPTD BLUD BPSDKP Wilayah Lombok, Bidang Pengelolaan Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Bidang Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, serta unsur perencanaan, program, data dan informasi, dan unit teknis terkait.
Sementara itu, dari Lichen Institute hadir unsur pimpinan, koordinator program TFCCA, tenaga ahli, dan staf yang terlibat dalam pelaksanaan program.

Berdasarkan peserta yang tercatat dalam notulensi audiensi, di antaranya Akmaldin, M.Si. dari Bidang Pengelolaan Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; Sulaeman selaku Direktur Lichen Institute; Febrian Kusuma selaku Koordinator Program TFCCA-LI 2026; Tafaul dan Wahab dari BPSDKP Wilayah Lombok; Moh Adi Sofyan dan Khairuddin dari Bidang Pengawasan; serta Sarina, Hanapi, dan Septian dari unsur data, perencanaan dan bidang pesisir.
Rangkaian Agenda Audiensi
Audiensi berlangsung melalui beberapa tahapan kegiatan. Agenda dimulai dengan registrasi peserta pukul 09.00–10.00 WITA, dilanjutkan pembukaan, sambutan Direktur Lichen Institute, serta arahan dari Kepala DKP Provinsi NTB.
Selanjutnya, Lichen Institute memaparkan rencana Program TFCCA 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan dua sesi diskusi dan tanya jawab. Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi sesi kedua dan ditutup dengan penyampaian kesimpulan serta penutupan.
| Waktu | Agenda | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| 09.00–10.00 WITA | Registrasi | Panitia |
| 10.00–10.15 WITA | Pembukaan | MC/Panitia |
| 10.15–10.25 WITA | Sambutan Direktur Lichen Institute | Direktur Lichen Institute |
| 10.25–10.45 WITA | Sambutan dan arahan Kepala DKP NTB | Kepala DKP NTB |
| 10.45–11.30 WITA | Pemaparan Rencana TFCCA 2026 | Lichen Institute |
| 11.30–12.30 WITA | Diskusi dan Tanya Jawab I | Lichen Institute/DKP NTB |
| 12.30–13.30 WITA | ISHOMA | Panitia |
| 13.30–14.30 WITA | Diskusi dan Tanya Jawab II | Lichen Institute/DKP NTB |
| 14.30–14.45 WITA | Kesimpulan dan Penutupan | Panitia |
Sejumlah Isu Strategis Menjadi Pembahasan
Dalam diskusi, kedua pihak membahas sejumlah aspek penting yang berkaitan dengan pelaksanaan program, antara lain kondisi ekosistem terumbu karang dan pesisir, penguatan resiliensi di Selat Alas, teknologi monitoring menggunakan ROV, konektivitas terumbu karang, pengawasan berbasis komunitas, serta kebutuhan data dasar sosial, ekonomi dan ekologi.
Pembahasan juga mencakup ketersediaan data pada DKP NTB, peluang sinergi program, dukungan kelembagaan, pembagian peran, serta mekanisme koordinasi dan komunikasi antara para pihak.
Salah satu perhatian dalam pembahasan adalah pentingnya memastikan kegiatan monitoring tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi memiliki alur yang jelas mulai dari monitoring, analisis, penyusunan rekomendasi intervensi, pengawasan hingga evaluasi.
Penggunaan ROV juga menjadi bagian yang dibahas, terutama mengenai peran teknologi tersebut dalam mendukung pemantauan kondisi terumbu karang serta keterkaitannya dengan metode monitoring yang telah berjalan.
DKP NTB Dorong Koordinasi dan Sinergi
Dalam pembahasan, DKP NTB menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan Program TFCCA sepanjang kegiatan tersebut dapat diselaraskan dengan visi, misi dan rencana kerja pemerintah daerah, khususnya DKP NTB.
Untuk memastikan pelaksanaan kegiatan di lapangan berjalan terkoordinasi, Lichen Institute diarahkan untuk menyampaikan timeline kegiatan selama 18 bulan secara lebih rinci sebelum pelaksanaan survei, monitoring, pelatihan maupun kegiatan patroli. Setiap kegiatan lapangan juga perlu dikoordinasikan dengan UPT BLUD BPSDKP Wilayah Lombok, termasuk pemanfaatan fasilitas yang tersedia sesuai hasil koordinasi teknis.

Audiensi juga membahas kemungkinan penguatan kerja sama kelembagaan melalui mekanisme formal, seperti PKS, MoU atau bentuk kemitraan lainnya, sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Penguatan POKMASWAS dan Pengawasan Berbasis Masyarakat
Aspek pengawasan berbasis masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam program. Dalam pembahasan, muncul kebutuhan untuk membentuk atau mengaktifkan kembali Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) sebagai bagian dari pengawasan dan pemantauan aktivitas di wilayah pesisir dan laut.
Penguatan POKMASWAS diharapkan dapat mendukung kegiatan patroli rutin, pelaporan kejadian di lapangan, serta memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga sumber daya kelautan.
Selain itu, data hasil monitoring diharapkan dapat dikelola dalam format yang dapat diintegrasikan dengan kebutuhan data pemerintah daerah. Karena itu, metadata, hasil survei, laporan dan peta menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan data program.
OECM Gili Sunut–Petelu Jadi Bagian Penting Program
Pengembangan OECM Gili Sunut–Petelu menjadi salah satu agenda utama yang dibahas. Pendekatan OECM dalam program tidak hanya melihat kondisi terumbu karang, tetapi juga mempertimbangkan ekosistem pesisir, sosial ekonomi masyarakat, serta pola pemanfaatan sumber daya.
Dalam prosesnya, pelibatan masyarakat, nelayan, pelaku usaha dan pihak terkait lainnya melalui kegiatan sosialisasi maupun forum diskusi menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman dan dukungan terhadap pengelolaan kawasan.
Pembahasan juga menyinggung potensi pemanfaatan hasil monitoring untuk mendukung identifikasi lokasi wisata bahari dan pertimbangan daya dukung kawasan, sehingga data ekologis dapat menjadi salah satu bahan dalam pengelolaan kawasan secara lebih terpadu.
Audiensi Hasilkan Kesepahaman Awal dan Rencana Tindak Lanjut
Audiensi menghasilkan sejumlah keluaran, antara lain terbangunnya pemahaman bersama mengenai tujuan dan ruang lingkup Program TFCCA, adanya komitmen awal untuk memperkuat koordinasi antara Lichen Institute dan DKP NTB, teridentifikasinya kebutuhan data dasar, masukan teknis dari DKP NTB, serta kesepakatan untuk menjaga mekanisme komunikasi dan koordinasi selama pelaksanaan program.
Selanjutnya, Lichen Institute akan menindaklanjuti hasil audiensi melalui penyusunan dan penyampaian jadwal kegiatan secara rinci, koordinasi teknis dengan unit terkait, penguatan keterlibatan masyarakat, serta penyelarasan pelaksanaan kegiatan dengan program dan kebutuhan pemerintah daerah.
Audiensi ini menjadi bagian awal dari rangkaian pelaksanaan Program TFCCA 2026 yang diarahkan untuk memperkuat pengelolaan ekosistem terumbu karang di Selat Alas melalui perpaduan antara pendekatan ekologi, teknologi monitoring, data sosial ekonomi, penguatan konektivitas ekosistem, serta pengawasan berbasis masyarakat.

